Widodo

Si Penjaga Kebun Yang Amanah

Di suatu masa tinggallah seorang hakim bijaksana yang kaya raya bernama Nuh bin Maryam. Selain memeliki keshalehan sifat dan perilaku. Nuh bin Maryam juga memeliki keluarga yang sakinah, terpelihara dari fitnah dan perbuatan maksiat. Istri dan anak gadinya terkenal pula akan kebaikan hati, keluhuran budi serta ketakwaan mereka kepada Allah.

Karena akhlak mulia, perilaku terpuji dan kekakyaan keluarga ini begitu menonjol, banyak lali-laki mengajukan diri untuk menjadi menantu sang hakim. Namun Nuh bin Maryam menolah mereka, meskipun beberapa di antar mereka adalah kaum bangsawan, kaum hartawan atau bahkan gabungan keduanya.

Nuh bin Maryam tak mau menikahkan anaknya dengan laki-laki sembarangan. Ia ingin laki-laki pilihannya yang menjadi suami anak gadisnya, yaitu laki-laki yang shaleh, beriman dan bertakwa kepada Allah, sehingga kehiduupan anak gadisnya beserta keluarganya kelak bisa mendapatkan keberkahan baik di dunia maupun di akhirat.

Sementara itu, Nuh bin Maryam memiliki seorang pekerja laki-laki bermana Mubarok. Tugas utama Mubarok adalah mengelola dan menjaga kebun-kebun yang dimilikinya. Hingga saat itu, pekerjaan Mubarok memang menunjukkan hasil yang baik. Kebun-kebun kurma, anggur dan buah-buahan lain milik Nuh bin Maryam tampak tumbuh subur dan selalu mengasilkan panen yang berlimpha.

Suatu siang Nuh bin Maryam meminta Mubarok memetikkan serenceng anggur menyerahkan anggur untuknya. Mubarok pun pergi dan menyerahkan anggur yang diminta. Nuh mencicipinya dan terkejut karena rasa anggur itu masam.

“Ambilkan yang lain, Mubarok,” perintah Nuh lagi.

Mubarok pun mengambilkan serencengan anggur lain. Sayang, lagi-lagi anggur itu tidak enak dimakan, agak pahit rasanya. Nuh menjadi keheranan dibuatnya.

“Ya ampun Mubarok, sedemikian banyak buah di kebunku, kenapa engkau ambilkan yang masan dan pahit begini. Mengapa tidak kau pilihkan dulu yang manis sebelum membawakannya kemari?” tanya Nuh bin Maryam.

“Maaf Tuan, tetapi saya tidak mampu membedakan mana buah yang manis, mana yang getir dan mana yang masam,” jawab Mubarok.

“Subhanallah, bukankah engkau sudah lama menjadi pengelola dan penjaga kebunku? Bagaimana mungkin engkau tidak tahu mana pokok buah yang menghasilkan buah yang manis dan mana yang tidak?” Nuh berkata lagi.

“Tetapi Tuan, saya memang tidak pernah mencicipi buah-buahan di kebun,” sahut Mubarok.

“Kenapa begitu?” ucap Nuh semakin heran.

“Karena demi Allah, bukankah Tua hanya meminta saya menjaga dan mengelola kebun Tuan dan tidak meminta saya untuk memakan buah-buahan di dalamnya? Maka saya lakukan tugas itu tanpa pernah terpikir untuk mengkhianati amanah yang diberikan pada saya,” tegas Mubarok dengan sungguh-sungguh.

Nuh bin Maryam tertegun mendengar ucapan pekerja laku-lakinya itu. Dia juga begitu kagum mendengarr kejujuran dan keshalehan perilakunya. Dimana lagi bisa ditemui orang yang begitu amanah dan takut pada dosa kecuali pada diri orang-orang yang bertakwa?

Tiba-tiba saja Nuh teringat pada anak gadisnya dan sebuah pikiranpun terlintas dalam benaknya; bagaimana kalau Mubarok ku nikahkan dengan anak gadisnya? Maka Nuh pun pulang dan membicarakan hal tersebut pada istrinya. Istrinya pun setuju asalkan anak gadis mereka menyetujuinya.

Ketika Nuh bertanya seraya menjelaskan pada anak gadisnya perihal Mubarok, sang anak gadis pun menjawab bahwa ia tentu saja bersedia menikah dengan seseorang yang telah diketahui baik akhlaknya dan shaleh perilakunya.

Begitulah akhirnya anak gadis Nuh bin Maryam kemudian dinikahkan dengan pekerja kebun mereka, Mubarok. Dan ternyata pilihan ini terbukti merupakan pilihannya yang tepat. Keluarga Mubarok hidup dalam bingkai keshalehan dan ketakwaan. Mereka banyak bersyukur atas segala nikmat dan selalu bersabar setia kali mendapat musibah. Dan dari pernikahan ini kemudan lahir seorang anak laki-laki yang dinamai Abdullah bin Mubarok, seorang laki-laki yang di kemudian hari menjadi soerang ulama besar yang terkenal karena ketawaan, keilmuan dan kedermawanannya

Sungguh beruntung kehidupan keluarga Mubarok. Mereka benar-benar mendapatkan berkah Allah dan hidup berbahagia hingga akhir hayat mereka.

Semoga setalah kita membaca kisah "Si Penjaga Kebun Yang Amanah" kita bisa menjadi seorang yang amanah dan jujur seperti Mubarok. Amiin...



0 Komentar